Senin, 01 Oktober 2012

sosialisasi isi teks syarhil qur'an


SOSIALISASI ISI TEKS SYARAHAN
DALAM MUSABAQAH SYARHIL QUR’AN [MSyQ]
Oleh :
RAFI AMPUTRA


Disetuji Oleh
Pengurus LPTQ Propinsi Lampung
LEMBAGA PENGEMBANGAN TILAWATIL QUR’AN
PROPINSI LAMPUNG
TAHUN 2010 M / 1431 H

PENDAHULUAN


Fenomena minimnya penulisan teks syarhil yang berstandar nasional dan relevan dengan penilaian saat ini adalah satu keresahan sosial yang harus segera diselesaikan baik secara kolektif seperti melalui pembinaan secara terorganisir dari lembaga yang berwenang maupun melalui sosialisasi seperti tulisan ini, yang dibuat oleh Tim Dewan Hakim Syarhil Qur’an pada MTQ Propinsi Lampung ke-38 di Lampung Barat. Terdiri dari Drs. Hi. Mansuri Ismail sebagai Koordinator. Efa Rodiah Nur, M.Hum., Hi. Asrori, MH., dan Ahmad Rajafi, MHI., sebagai tim penilai, dkk. Ataupun secara personal, seperti yang dilakukan oleh pembina-pembina di daerah. Meski tidak dapat dipungkiri bahwa tulisan singkat ini jauh dari sempurna, akan tetapi paling tidak, kegerahan ini dapat diperingan dengan tulisan yang bersifat temporer, yang suatu saat akan direvisi sesuai dengan situasi dan keadaan yang berkembang.
Adapun tulisan ini hanya terfokus pada isi syarahan, karena memang di satu sisi, penilaian di bidang ini adalah penilaian tertinggi, yang secara komulatif berjumlah 40 (empat puluh), dan di sisi lain, fakus dari Musabaqah Syarhil Qur’an adalah isi dari syarahan tersebut, sehingga dapat membawa audiens ke dalam suasana yang dideskripsikan oleh pensyarah. Kelemahan kita di lapangan adalah, begitu banyak peserta-peserta syarhil yang isi syarahannya sangat ringan bahkan miskin analisis faktual. Semua hampir bersifat normatif dan bahkan tidak singkron antara maksud tema dengan isi syarahan. Lalu jalan pintas yang dilakukan oleh daerah adalah meminta kepada sesorang untuk membuatkannya, atau secara tidak langsung pembina memaksa peserta, namun dengan tidak dilakukan pengawasan dan editing teks secara sempurna.
Kelemahan lain yang lebih menggelitik adalah, begitu banyak pembina kita di daerah yang menyamakan pembuatan teks tersebut dengan pola ceramah ataupun pidato formal. Pola ceramah yang ringan analisis dan menyepelekan bentuk teks, “yang penting pendengarnya senang”, serta pola pidato yang syarat keilmuan namun monoton dalam penyampaian. Lalu pertanyaan besarnya, di manakah letak syarhil? Syarhil pada dasarnya merupakan hasil kompromi antara ceramah dan pidato, di mana si pensyarah harus harus mampu masuk ke dalam keinginan pendengar dengan ungkapan yang mengajak pendengar tersenyum atau kesal, tertawa atau menangis, (inilah pola ceramah), namun juga tidak dapat menafikan orisinalitas rujukan yang telah dikutip dan kaya akan analisis kritis-faktual tentunya. Untuk itu, isi syarahan di satu sisi harus berafiliasi dengan ruh ceramah dan di sisi lain juga berafiliasi dengan ruh pidato sehingga menghasilkan syarahan yang “apik” dan menarik untuk dibaca dan diperdengarkan. Syarat utama yang harus dilakukan adalah, semuanya murni dari hati yang paling dalam, karena apa yang disampaikan oleh isi hati yang paling dalam akan mudah diterima oleh hati yang paling dalam juga. Sebagaimana ungkapan Ibnu ‘Ujaibah :
ولا شك أنَّ الوعظ مِن المخلصين وأهل القلوب ، أشد تأثيراً من غيرهم ،فإنَّ الكلامَ إذا خرج من القلب وقع في القلب
Artinya : “tidak dapat diragukan lagi bahwa keteladanan dari orang-orang yang ikhlash dan bijak, lebih mudah diresapi oleh orang lain, maka sesungguhnya ungkapan itu jika lahir dari hati maka akan tertanam di dalam hati orang yang mendengar ungkapan tersebut.
Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan memberikan semangat baru untuk memajukan Syarhil Qur’an ke depan, dengan terus meng-update pengetahuan kita tentang syarhil, meskipun dari anak kecil yang dalam pandangan zhahir kita lemah dan rendah. Semoga Allah selalu membimbing kita dengan al-Qur’an, al-Sunnah dan keilmuan ‘ulama sebagai pewarisnya.
GAMBARA UMUM TEORI
MUSABAQAH SYARHIL QUR’AN [MSyQ]

A. Secara Umum Tentang Teks.
1. Bagian Muqaddimah.
a.       Kefasihan Bacaan Salam
b.      Kefasihan Bacaan Muqaddimah ;
1)      Hamdalah
2)      Shalawat dan Salam Terhadap Nabi
c.       Kebenaran Bacaan Muqaddimah
d.      Mensifati Hamdalah Atau Menyebut Dalil al-Qur’an dan al-Hadits
e.       Mensifati Hamdalah Dengan Topik yang Ada
f.        Ungkapan Sapaan Kepada Audiens (Jama’ah)
g.      Mengemukakan Latar Belakang / Pengantar Pembahasan
2. Bagian Isi.
a.       Menjelaskan Konsep Utama Dalam Ayat
b.      Relevansi Ayat Dengan Isi
c.       Mengemukakan Maksud Ayat Secara Global
d.      Kefasihan Dalam Membaca Istilah Yang Berbahasa Asing
e.       Menyebutkan Rujukan Bacaan
f.        Memperkaya Analisis Dengan Dalil Al-Qur’an, Hadits, Peribahasa dan Sya’ir
g.      Menuangkan Asbab An-Nuzul Ayat dan Asbab al-Wurud Hadits
h.      Menunjukkan Isi Ayat Dengan Problem Kekinian Yang Dihadapi Jama’ah
i.        Memberikan Contoh
3. Sistematika Penggunaan Bahasa.
a.       Pendekatan Deduktif ( Umum Ke Khusus )
b.      Pendekatan Induktif ( Khusus Ke Umum )
c.       Bergantian Deduktif dan Induktif
d.      Penggunaan Bahasa Yang Baik, Benar, dan Etis
B. Secar Umum Tentang Intonasi, Aksentuasi, Gaya dan Mimik.
  1. Intonasi dan Aksentuasi.
a.       Menanjak
b.      Menurun
c.       Bergantian Menanjak Dan Menurun
d.      Datar
e.       Kesesuaian Volume Suara Dengan Maksud Isi Khutbah
f.        Daya Tarik Persuasif (bersifat membujuk secara halus agar menjadi yakin)
2. Gaya dan Mimik ;
a.       Kesatuan Yang Utuh (Integritas) Antara Laga Dalam Penampilan Yang Memancarkan Kewibawaan Dan Kejujuran
b.      Model Tampilan Pakaian Yang Dikenakan
c.       Keserasian Tampilan Gerak Bahasa Tubuh Dengan Maksud Isi Paparan Khutbah
d.      Ekspresi Kejiwaan
e.       Daya Tarik Persuasif (bersifat membujuk secara halus agar menjadi yakin)
C. Evaluasi Khutbah Dalam Latihan.
1.      Bertanya Dengan Orang yang Mendengarkan
2.      Rekaman Suara

PENILAIAN DEWAN HAKIM
BIDANG TERJEMAH DAN MATERI SYARAHAN

A. Norma Penilaian.
1.      Hakim menilai penampilan peserta berdasar ketentuan yang berlaku.
2.      Dalam menilai bidang yang sama, antara satu hakim dengan yang lain tidak diperbolehkan adanya selisih nilai lebih dari 3, kecuali bila selisih itu konsisten (ajeg) bagi seluruh peserta.
3.      Bila terdapat suatu hal pada bidang tertentu yang diduga sebagai kekeliruan dalam penilaian, maka Hakim penilai bidang tersebut dapat meminta klarifikasi melalui Ketua Majelis, sehingga tercapai kesepakatan dalam musyawarah majelis dan jika tidak tercapai kesepakatan, dapat diajukan ke dalam Sidang Pleno Dewan Hakim.
4.      Dalam rangka transparansi dan modernisasi maka diperlukan perangkat IT dalam penilaian.

B.     Bidang Terjemah dan Materi Syarahan Meliputi.

1.      Ketepatan Terjemah
2.      Sistematika dan Isi
3.      Kaidah dan Gaya Bahasa

C.    Rincian Bidang Terjemah dan Materi Syarahan

1.      Ketepatan Terjemah    : penilaian tentang isi terjemah yang sesuai dengan kandungan ayat.
2.     Sistematika                   : penilaian tentang susunan dan urutan materi yang mencakup pendahuluan, permasalahan, pembahasan dan kesimpulan.
3.     Isi                                 : penilaian tentang keutuhan, kedalaman, keluasan dan  ketepatan uraian dan kekuatan argumentasi termasuk  dalil-dalil yang dipergunakan.
4.     Kaedah dan Gaya Bahasa        : penilaian tentang pemakaian kata dan struktur kalimat yang benar, mengena dan menarik sesuai dengan kaidah bahasa dan sastra.

CONTOH
BLANGKO PENILAIAN

Model : H17
LEMBAGA PENGEMBANGAN TILAWATIL QUR’AN TINGKAT NASIONAL
MTQ/STQ TINGKAT NASIONAL

FORMULIR PENILAIAN BIDANG TERJEMAH DAN MATERI

Cabang           : Syarh  Al Qur’an

No. Peserta         : …………..             Babak     : Penyisihan/final *)
Giliran                : …………..             Topik      : No. ……………….
NO. JENIS YANG DINILAI NILAI MAKSIMAL NILAI MINIMAL NILAI YANG DIPEROLEH CATATAN Nilai Akhir
1 Ketepatan terjemah 10 3

2 Sistematika dan Isi 20 4

3 Kaidah & gaya bahasa 10 3

Jumlah 40 10 ………….  =
………… ,  ………………..
Hakim Penilai
*) Coret yang tidak perlu

Nama Terang



PENJELASAN TENTANG MATERI SYARAHAN
A. Susunan dan Urutan Materi :
1.      Pendahuluan    : mendeskripsikan secara umum maksud syarahan untuk                                              kemudian menyebutkan permasalahan, baik secara induktif                                  maupun deduktif.
2.      Permasalahan : inti kajian, baik berupa judul atau tema yang sebelumnya                                          disebutkan permasalahan, baik satu variabel atu lebih.
3.      Pembahasan    : merangkai kata dengan berargumentasi tentang maksud ayat,                                    baik secara deduktif maupun induktif dan di interpretasikan                                     melalui pola maudhu’i, dirayah, riwayah, hermeneutik, dll.
4.      Kesimpulan     : kesimpulan disebutkan sesuai dengan jumlah masalah yang                                       dikaji, jika permasalahannya satu maka kesimpulan juga satu,                               dll.
B. Isi :
1.      Keutuhan isi    : dengan menjabarkan pendahuluan, permasalahan, ayat                                              bahasan, interpretasi ayat, argumentasi secara rasional,                                                   kesimpulan
2.      Kedalaman isi  : baik dengan pendekatan tekstual, kontekstual, maupun                                              substansial
3.      Keluasan isi     : baik dengan menggunakan anlisis kritis, komparatif, dll.
4.      Ketepatan uraian isi                 : antara ayat, tafsiran, dan penggunaan                                                                          argumentasi harus saling mempengaruhi
5.      Kekuatasan argumentasi          : dengan penyebutan referensi secara utuh,                                                                   seperti, “Muhammad Qurasish Shihab di                                                                    dalam Tafsir al-Mishbah”, lebih bagus lagi jika                                                             disebutkan halamannya.
6.      Penggunaan dalil                     : dalil dapat dikalsifikasikan pada penggunaan                                                              naqli (seperi penyebutan ayat, hadits, maupun                                                            ungkapan ulama “qaul/wajah”) dan ‘aqli (seperti pendekatan sosiologis, antropologis,                                                      budaya, maslahat, dll).
C. Kaedah dan Gaya Bahasa :
1.      Pemakaian kata yang baik       : yang tidak terpola pada budaya ketimuran,                                                                 yang tidak mengumpat, menghina, dll. secara                                                             tidak objektif.
2.      Struktur kalimat yang benar    : sesuai dengan ketentuan penggunaan bahasa                                                              Indonesia yang baku (struktur EYD) di                                                                      Indonesia. Di dalam tekas harus debadakan                                                    dengan ungkapan secara verbal.
3.      Mengena dengan maskud syarahan
4.      Menarik untuk dikaji
5.      Kaidah bahasa dan sastra yang sesuai

CONTOH TEKS SYARHIL
A. Bagian Pendahuluan.
Multatuli mengibaratkan bumi Indonesia laksana jamrud yang berada di dataran khatulistiwa. Qurasish Shihab juga mengibaratkan tanah Indonesia laksana sekeping tanah sorga yang di hamaparkan di persada nusantara. Dua ungkapan tersebut menggambarkan bertapa indah dan hebatnya sumber daya alam yang kita miliki. Kita Negara kaya, sumberdaya kita potensisal, tanah kita pun subur, Namun kenyataannya masih banya rakyat yang berada dibawah garis kemiskinan, bayi-bayi kekurangan gizi, pelajar putus sekolah, bahkan rakyat mati menderita kelaparan. Mengapa hal ini terjadi? Ini disebabkan Sumber daya alam yang kita miliki belum dimanfaatkan oleh bangsa kita sendiri, melainkan dieksploitasi dikikis habis oleh bangsa-bangsa lain sebagai aksi penjajahan gaya baru.
Bahkan akhir-akhir ini akibat kecongkakan tangan-tangan manusia itu sendiri yang dibungkus sains dan teknologi telah mengikis habis keramahan alam sehingga yang nampak adalah krisis lingkungan, polusi, malapetaka atomik, menipisnya lapisan ozon di atmospir, hingga ancaman terjadinya hujan api dibeberapa belahan dunia. Fenomena tersebut menandakan ketidak harmonisan hubungan manusia dengan alam raya, akibatnya dirasakan oleh manusia sendiri. Sebab “if the habitat was cared will give  function but if not it would make destroy”. Jika alam lingkungan dipelihara akan berdaya guna tapi jika dibiarkan akan menimbulkan bencana. Demikianlah ungkapan Edwar Buckle dalam History Of Civilization in England.
B. Penyebutan Masalah.
Melihat betapa pentingnya memelihara lingkungan tersebut, maka pada kesempatan ini kita akan membicarakan tentang, “Kewajiban Manusia Memelihara dan Memakmurkan Alam”, dengan rujukan firman Allah, surat al-Hijr ayat 19-20 :
C. Isi Syarahan.
1. Penyebutan Ayat dan Terjemahnya.
وَاْلأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَ أَ لْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَ أَ نْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍ {19}وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ وَمَنْ لَسْتُمْ لَهُ بِرَازِقِينَ {20}
Artinya : “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.(19) Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya.(20)”
2. Pendapat atau Penafsiran Ulama.
Prof. Dr. Muhammad Qurish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menyebutkan, bahwa kalimat وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍ “dan kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran”, dipahami oleh sementara ulama dalam arti bahwa Allah swt menumbuh-kembangkan di bumi ini aneka ragam tanaman untuk kelangsungan hidup dan menetapkan bagi setiap tanaman itu masa pertumbuhan dan penuaian tertentu, sesuai dengan kuantitas dan kebutuhan makhluk hidup. Demikian juga Allah swt menentukan bentuknya sesuai dengan penciptaan dan habitat alamnya.
Dalam tafsir al-Muntakhab, ayat ini dinilai sebagai menegaskan suatu temuan ilmiah yang diperoleh melalui pengamatan di laboratorium, yaitu setiap kelompok tanaman masing-masing memiliki kesamaan dilihat dari sisi luarnya, demikian juga sisi dalamnya. Bagian-bagian tanaman dan sel-sel yang digunakannya untuk pertumbuhan memiliki kesamaan-kesamaan yang praktis tak berbeda. Meskipun antara satu jenis dengan yang lainnya dapat dibedakan, tetapi semuanya dapat di klasifikasikan dalam satu kelompok yang sama.
Hadirin, alangkah bahagia dan indahnya alam ini jika setiap individu memiliki semangat dalam memelihara dan melestarikan alam raya yang kita huni ini, sehingga dapat menghasilkan manfaat bagi semua manusia yang ada. Para ilmuan menyebut abad ke-21 sebagai the age of anxietyor restlenses, abad yang penuh dengan kegelisahan, kecemasan, perang antar suku dan bangsa menjadi-jadi, resesi ekonomi melanda seluruh lapisan warga, ledakan penduduk semakin tak terkendali bahkan pencemaran lingkungan menjadi ancaman kehidupan.
3. Analisis Pensyarah.
Kondisi tersebut hadirin, jelas telah menimbulkan beban psikologis bagi kehidupan masyarakat, akibatnya masyarakat menjadi serba salah, hati menjadi resah dan gelisah, jiwa terasa hampa dan merana, semangat hidup tiada dan enggan berkaryabahkan yang paling parah munculnya berbagai penyakit psikomotis, penyakit kejiwaan yang dapat mematikan seluruh umat manusia secara perlahan dan mengerikan, kalaupun bertahan namun hidup tidak lagi merasakan ketenangan.
Hadirin, lalu apakah tugas manusia di muka bumi ini? tidak lain adalah untuk memakmurkan bumi, mensejahterakan umat manusia sendiri lebih-lebih lingkungan-nya sebagai tempat tinggal dan menetap. Sebagaimana terurai di dalam al-Qur’an surat Huud ayat 61 :
وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ اْلأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ {16}
Artinya : “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do`a hamba-Nya).
Demikianlah firman Allah yang yang menginformasikan kepada kita bahwa manusia diciptakan dari tanah dan ditugasi untuk memakmurkan tanah atau bumi. Karena itu dalam bidang ilmu pengetahuan alam kita mengenal istilah alam biotiks (alam raya) dan alam abiotis (berupa moral manusia). Kerusakan alam biotiks biasanya berwal dari kerusakan alam abiotis yakni moral manusia. Sebagai contoh : berdasarkan penelitian Wahana Lingkungan Hidup di DKI Jakarta tercatat memiliki 2.118 Sumur Bor dengan kedalaman tidak kurang dari 40 M, sehingga jika terjadi penambahan sumur lagi pada tahun 2010 nanti, Wilayah DKI Jakarta bisa mencapai daratan 0,0 M, dari permukaan laut alias rata menjadi laut.
Ancaman kerusakan tersebut hadirin sebuah bukti yang harus kita renungkan, kita fikirkan, kita cermati untuk kita antisifasi agar saat ini maupun kelak tidak lagi terjadi kerusakan alam. Lalu bagaimanakah tanggung jawab dan usaha kita sebagai warga negara dalam memelihara alam lingkungan ini? Sebagai jawabannya,   Pertama : Kita harus mendukung dan membantu program pemerintah dengan jalan melakukan reboisasi tanah-tanah gundul, pembuatan terasering untuk mencegah longsor, penanggulangan limbah dan sampah bersama-sama dan menghentikan pemburuan satwa serta penebangan hutan secara liar. Kedua : Kita syukuri alam sebagai nikmat Allah swt dengan cara memeliharanya agar kita dikasihi oleh Allah swt. Rasulullah saw bersabda :
إرحموا من فى الأرض يرحمكم من فى السماء
Sayangilah oleh kamu sekalian segala apa yang ada di muka bumi ini niscaya yang di atas (Allah) akan menyayangimu.
Apabila sikap ini kita aplikasikan maka Allah swt menjamin kemakmuran alam raya yang kita miliki sehingga kita jauh dari petaka, terhindar dari bencana tapi dekat dengan nikmat dan barakat dari Allah swt yang Maha Qudrat.
Hadirin, perlu diketahui bahwa orang pintar tapi salah, tidak shaleh, tidak mungkin memakkmurkan alam, orang hebat namun bergelimang maksiat mustahil peduli mengelola alam raya, malah yang timbul adalah watak-watak perusak, pohon-pohon ditebangi, gunung-gunung di gunduli, dan satwa-satwa diburu. Padahal akibatnya, manusia sendiri yang menanggungnya, kita tengok beberapa kejadian baru-baru ini, terjadi banjir di jakarta, longsor di Sumatera Barat, gempa bumi di Yogyakarta dan gunung-gunung meletus di beberapa daerah Negara kita ini.
Belum cukup dengan semua itu kitapun dikejutkan dengan munculnya angin topan, gelombang pasang naik kedaratan, jebolnya tanggul di Situ Gintung Tanggerang yang menghabiskan ratusan nyawa manusia dan lain sebagainya. Mengapa demikian? Ebid G Ade melantunkan :
Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan, bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang
D. Isi Kesimpulan.
Dengan demikian, dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa alam akan berdaya guna jika dipelihara, namun akan menimbulkan petaka jika dirusak. Bentuk perusakan alam adalah dengan memperbanyak maksiat dalam hidup dan penghidupan manusia. Oleh karena itu, dalam rangka mengelola alam ini kita hindari diri kita masing-masing dari perbuatan-perbuatan maksiat, baik terhadap diri sendiri, terhadapa alam raya, terlebih kepada Allah swt.
Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita dalam mengemban amanah sebagai khalifah di muka bumi ini terutama dalam mengelola alam, semoga Allah memberikan keberkahan kepada bangsa ini, amin ya rabbal ‘alamin.

Contoh
Full Teks Syarhil Qur’an
KEWAJIBAN MANUSIA
MEMELIHARA DAN MEMAKMURKAN ALAM
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على اشرف الأنبياء والمرسلين سيدناومولنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين {أما بعد}
Hadirin Rahimakumullah,
Multatuli mengibaratkan bumi Indonesia laksana jamrud yang berada di dataran khatulistiwa. Qurasish Shihab juga mengibaratkan tanah Indonesia laksana sekeping tanah sorga yang di hamaparkan di persada nusantara. Dua ungkapan tersebut menggambarkan bertapa indah dan hebatnya sumber daya alam yang kita miliki. Kita Negara kaya, sumberdaya kita potensisal, tanah kita pun subur, Namun kenyataannya masih banya rakyat yang berada dibawah garis kemiskinan, bayi-bayi kekurangan gizi, pelajar putus sekolah, bahkan rakyat mati menderita kelaparan. Mengapa hal ini terjadi? Ini disebabkan Sumber daya alam yang kita miliki belum dimanfaatkan oleh bangsa kita sendiri, melainkan dieksploitasi dikikis habis oleh bangsa-bangsa lain sebagai aksi penjajahan gaya baru.
Bahkan akhir-akhir ini akibat kecongkakan tangan-tangan manusia itu sendiri yang dibungkus sains dan teknologi telah mengikis habis keramahan alam sehingga yang nampak adalah krisis lingkungan, polusi, malapetaka atomik, menipisnya lapisan ozon di atmospir, hingga ancaman terjadinya hujan api dibeberapa belahan dunia. Fenomena tersebut menandakan ketidak harmonisan hubungan manusia dengan alam raya, akibatnya dirasakan oleh manusia sendiri. Sebab “if the habitat was cared will give  function but if not it would make destroy”. Jika alam lingkungan dipelihara akan berdaya guna tapi jika dibiarkan akan menimbulkan bencana. Demikianlah ungkapan Edwar Buckle dalam History Of Civilization in England.
Melihat betapa pentingnya memelihara lingkungan tersebut, maka pada kesempatan ini kita akan membicarakan tentang, “Kewajiban Manusia Memelihara dan Memakmurkan Alam”, dengan rujukan firman Allah, surat al-Hijr ayat 19-20 :
وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍ{19}وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ وَمَنْ لَسْتُمْ لَهُ بِرَازِقِينَ {20}
Artinya : “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.(19) Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya.(20)”
Hadirin Rahimakumullah,
Prof. Dr. Muhammad Qurish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menyebutkan, bahwa kalimat وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍ “dan kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran”, dipahami oleh sementara ulama dalam arti bahwa Allah swt menumbuh-kembangkan di bumi ini aneka ragam tanaman untuk kelangsungan hidup dan menetapkan bagi setiap tanaman itu masa pertumbuhan dan penuaian tertentu, sesuai dengan kuantitas dan kebutuhan makhluk hidup. Demikian juga Allah swt menentukan bentuknya sesuai dengan penciptaan dan habitat alamnya.
Dalam tafsir al-Muntakhab, ayat ini dinilai sebagai menegaskan suatu temuan ilmiah yang diperoleh melalui pengamatan di laboratorium, yaitu setiap kelompok tanaman masing-masing memiliki kesamaan dilihat dari sisi luarnya, demikian juga sisi dalamnya. Bagian-bagian tanaman dan sel-sel yang digunakannya untuk pertumbuhan memiliki kesamaan-kesamaan yang praktis tak berbeda. Meskipun antara satu jenis dengan yang lainnya dapat dibedakan, tetapi semuanya dapat di klasifikasikan dalam satu kelompok yang sama.
Hadirin, alangkah bahagia dan indahnya alam ini jika setiap individu memiliki semangat dalam memelihara dan melestarikan alam raya yang kita huni ini, sehingga dapat menghasilkan manfaat bagi semua manusia yang ada. Para ilmuan menyebut abad ke-21 sebagai the age of anxietyor restlenses, abad yang penuh dengan kegelisahan, kecemasan, perang antar suku dan bangsa menjadi-jadi, resesi ekonomi melanda seluruh lapisan warga, ledakan penduduk semakin tak terkendali bahkan pencemaran lingkungan menjadi ancaman kehidupan.
Kondisi tersebut hadirin, jelas telah menimbulkan beban psikologis bagi kehidupan masyarakat, akibatnya masyarakat menjadi serba salah, hati menjadi resah dan gelisah, jiwa terasa hampa dan merana, semangat hidup tiada dan enggan berkaryabahkan yang paling parah munculnya berbagai penyakit psikomotis, penyakit kejiwaan yang dapat mematikan seluruh umat manusia secara perlahan dan mengerikan, kalaupun bertahan namun hidup tidak lagi merasakan ketenangan.
Hadirin, lalu apakah tugas manusia di muka bumi ini? tidak lain adalah untuk memakmurkan bumi, mensejahterakan umat manusia sendiri lebih-lebih lingkungan-nya sebagai tempat tinggal dan menetap. Sebagaimana terurai di dalam al-Qur’an surat Huud ayat 61 :
وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ {16}
Artinya : “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do`a hamba-Nya).
Ma’asyiral muslimin Rakhimakumullah,
Demikianlah firman Allah yang yang menginformasikan kepada kita bahwa manusia diciptakan dari tanah dan ditugasi untuk memakmurkan tanah atau bumi. Karena itu dalam bidang ilmu pengetahuan alam kita mengenal istilah alam biotiks (alam raya) dan alam abiotis (berupa moral manusia). Kerusakan alam biotiks biasanya berwal dari kerusakan alam abiotis yakni moral manusia. Sebagai contoh : berdasarkan penelitian Wahana Lingkungan Hidup di DKI Jakarta tercatat memiliki 2.118 Sumur Bor dengan kedalaman tidak kurang dari 40 M, sehingga jika terjadi penambahan sumur lagi pada tahun 2010 nanti, Wilayah DKI Jakarta bisa mencapai daratan 0,0 M, dari permukaan laut alias rata menjadi laut.
Ancaman kerusakan tersebut hadirin sebuah bukti yang harus kita renungkan, kita fikirkan, kita cermati untuk kita antisifasi agar saat ini maupun kelak tidak lagi terjadi kerusakan alam. Lalu bagaimanakah tanggung jawab dan usaha kita sebagai warga negara dalam memelihara alam lingkungan ini? Sebagai jawabannya,   Pertama : Kita harus mendukung dan membantu program pemerintah dengan jalan melakukan reboisasi tanah-tanah gundul, pembuatan terasering untuk mencegah longsor, penanggulangan limbah dan sampah bersama-sama dan menghentikan pemburuan satwa serta penebangan hutan secara liar. Kedua : Kita syukuri alam sebagai nikmat Allah swt dengan cara memeliharanya agar kita dikasihi oleh Allah swt. Rasulullah saw bersabda :
إرحموا من فى الأرض يرحمكم من فى السماء
Sayangilah oleh kamu sekalian segala apa yang ada di muka bumi ini niscaya yang di atas (Allah) akan menyayangimu.
Apabila sikap ini kita aplikasikan maka Allah swt menjamin kemakmuran alam raya yang kita miliki sehingga kita jauh dari petaka, terhindar dari bencana tapi dekat dengan nikmat dan barakat dari Allah swt yang Maha Qudrat.
Hadirin, perlu diketahui bahwa orang pintar tapi salah, tidak shaleh, tidak mungkin memakkmurkan alam, orang hebat namun bergelimang maksiat mustahil peduli mengelola alam raya, malah yang timbul adalah watak-watak perusak, pohon-pohon ditebangi, gunung-gunung di gunduli, dan satwa-satwa diburu. Padahal akibatnya, manusia sendiri yang menanggungnya, kita tengok beberapa kejadian baru-baru ini, terjadi banjir di jakarta, lonesor, gempa bumi di Yogyakarta dan gunung-gunung meletus di beberapa daerah Negara kita ini.
Belum cukup dengan semua itu kitapun dikejutkan dengan munculnya angin topan, gelombang pasang naik kedaratan, jebolnya tanggul di Situ Gintung Tanggerang yang menghabiskan ratusan nyawa manusia dan lain sebagainya. Mengapa demikian? Ebid G Ade melantunkan :

Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan, bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang
Dengan demikian, dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa alam akan berdaya guna jika dipelihara, namun akan menimbulkan petaka jika dirusak. Bentuk perusakan alam adalah dengan memperbanyak maksiat dalam hidup dan penghidupan manusia. Oleh karena itu, dalam rangka mengelola alam ini kita hindari diri kita masing-masing dari perbuatan-perbuatan maksiat, baik terhadap diri sendiri, terhadapa alam raya , terlebih kepada Allah swt.
Semoga Allah memberikan kekuatau kepada kita dalam mengemban amanah sebagai khalifah di muka bumi ini terutama dalam mengelola alam, semoga Allah memberikan keberkahan kepada bangsa ini, amin ya rabbal ‘alamin.
والله المستعان إلى احسن الحال
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar